PKM Unwar Kenalkan Sistem Pemanenan Air Geomembran, Hadapi Kemarau

 07 Juni 2024   

sistem pemanenan air dengan geomembran/geotektile oleh PKM Unwar di Subak Subak Balangan dan Subak Uma Tegal, Desa Kuwum, Mengwi

Universitas Warmadewa (Unwar) memiliki cara jitu untuk mengatasi kebutuhan air untuk mengairi sawah selain sistem perairan di Bali yang dikenal dengan istilah Subak, agar mampu memenuhi ketersediaan air saat musim kemarau.

Hal ini dituangkan dosen Unwar melalui Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang bertajuk “Edukasi Dan Pelatihan Pemanenan Air di Subak Balangan dan Subak Uma Tegal Desa Kuwum, Mengwi, Kabupaten Badung dengan Sistem Pembuatan Kolam Pemanenan Air
geomembran/geotektile”.

Melalui kegiatan yang bersumber dari Hibah Institusi ini, Dosen Unwar terjun langsung ke lapangan untuk mengimplementasikan ide-ide dan gagasan kepada para petani agar bisa menjaga ketersediaan air sepanjang musim.

“Puji syukur diucapkan kehadapan Tuhan Yang maha esa, berkat rachmatnyalah acara ini dapat terlaksana sesuai dengan rencana,” kata Ketua Tim PKM Prof. Dr. Ir. I Gusti Agung Putu Eryani,M.T. Selasa 4 Juni 2024. Dalam acara itu dia didampingi anggota tim Dr. Ir. Ni Made Ayu Gemuh Rasa Astiti, MP serta mahasiswa dari Teknik Sipil FTP Universitas warmadewa.

Prof. Eriyani mengungkapkan, pengabdian ini terselenggara dari dana hibah pengabdian Institusi 2024, dengan tujuan untuk memberikan edukasi dan pelatihan pembuatan kolam pemanenan air dengan bahan geomembran/geotektile kepada masyarakat anggota subak yang terpilih melalui rapat anggota subak sebanyak 10 kolam pemanenan air di area subak.

Pemanenan air, lanjutnya, adalah salah satu solusi dalam mengatasi masalah kekeringan dan kelangkaan air yang sering terjadi di Subak Balangan dan Uma Tegal, terutama pada musim kemarau.

Subak merupakan sistem irigasi tradisional di Bali yang memiliki peran penting dalam menunjang pertanian, oleh karena itu, pembuatan kolam pemanenan air di Subak Balangan dan Uma Tegal menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan sistem pertanian.

Tujuannya dari PKM ini tiada lain
untuk mengatasi masalah kekurangan air di Subak, Menyediakan sumber air tambahan untuk keperluan irigasi sawah, serta Meningkatkan produktivitas pertanian dengan memastikan ketersediaan air sepanjang tahun.

Lebih lanjut disampaikan, langkah-langkah pemanenan air dilaksanakan dengan mengedukasi dan sosialisasi mengenai pentingnya pemanenan air dan melakukan pelatihan langsung kepada masyarakat subak tentang cara perawatan dan pengelolaan kolam.

Pada PKM subak yang terpilih dalam pemberian plastik geomembran secara langsung dan pemberian leflet/brosur terkait proses pelaksanaan pembuatan cubang/ kolam dari bahan geomembran/geotektile.

“Proses pelaksanaan diawali dengan menetapkan lokasi yang strategis untuk pembuatan kolam pemanenan air. Melakukan pengukuran topografi dan analisis kondisi tanah. Desain kolam sesuai kesepakan dalam rapat anggota subak 2 x 1,5 x 1 m dengan material geomembran yang akan digunakan untuk konstruksi kolam,” terangnya.

Konstruksi untuk penggalian kolam dan pemasangan plastik geomembran melibatkan masyarakat subak setempat dalam proses pembuatan kolam. Kolam dengan kapasitas 3000 liter sebanyak 5 kolam di Subak Balangan dan 5 kolam di Subak Uma Tegal, telah berhasil dibangun.

Sistem penyaluran air yang efisien terhubung ke sawah-sawah di Subak Balangan dan Uma Tegal. Manfaat pemanenan air dalam PKM dari tim adalah Ketersediaan air yang lebih stabil sepanjang tahun. Peningkatan hasil panen padi, palawija karena irigasi yang lebih baik. Pengetahuan masyarakat mengenai teknik pemanenan air dan pengelolaan kolam meningkat.

Pembuatan kolam pemanenan air di Subak Balangan dan Uma Tegal diharapkan memberikan dampak positif yang signifikan kepada warga subak, dalam mengatasi masalah kekurangan air dan meningkatkan produktivitas pertanian, serta memberikan edukasi yang bermanfaat bagi masyarakat setempat. Program ini diharapkan dapat menjadi model yang dapat diterapkan di subak-subak lainnya di Bali.

TAGS :